Dapatkan Promo Online terbaik. Dapatkan Sekarang!

Kita Sudah Membeli Smartphone. Mengapa Masih Diberi Iklan?

Sudah beli smartphone tapi masih ada iklan di aplikasi bawaan? Pelajari alasan produsen HP menerapkan model bisnis monetisasi digital ini!

Ketika membeli smartphone baru, biasanya hal pertama yang kita perhatikan adalah spesifikasinya.

Prosesornya apa? RAM-nya berapa GB? Kameranya bagus atau tidak? Layarnya AMOLED? Baterainya tahan berapa lama?

Kita membayar, membawa pulang perangkat tersebut, lalu mulai menggunakannya.

Namun, setelah beberapa waktu, ada satu hal yang mungkin mulai kita sadari: smartphone yang sudah kita beli ternyata masih bisa menampilkan iklan kepada kita.

Iklan di Layar Smartphone

Bukan di media sosial.

Bukan di sebuah website.

Melainkan di aplikasi bawaan perangkat.

File Manager, Security, Themes, App Store, Browser, atau aplikasi lain yang sejak awal sudah tersedia di smartphone.

Di titik inilah muncul pertanyaan yang cukup sederhana:

Kalau smartphone-nya sudah saya beli, mengapa saya masih menjadi target iklan dari perangkat tersebut?

"Sekedar iklan?"

Memang, sebuah iklan kecil mungkin bukan masalah besar.

Satu banner mungkin masih bisa diabaikan. Satu rekomendasi aplikasi juga mungkin tidak terlalu mengganggu.

Masalahnya mulai terasa ketika iklan tersebut menjadi bagian dari pengalaman menggunakan banyak aplikasi bawaan.

Smartphone yang seharusnya menjadi alat untuk melakukan sesuatu perlahan terasa seperti sebuah platform yang juga ingin terus menawarkan sesuatu kepada kita.

Di sinilah pengalaman pengguna menjadi sedikit berbeda.

Ketika kita membuka aplikasi yang sengaja kita unduh dari Play Store, kita biasanya sudah memahami bahwa aplikasi tersebut mungkin memiliki model bisnis tertentu. Aplikasi gratis, misalnya, dapat memperoleh pendapatan melalui iklan.

Tetapi ketika iklan muncul di aplikasi bawaan yang menjadi bagian dari pengalaman dasar sebuah smartphone, rasanya berbeda.

Kita tidak merasa sedang mengunjungi sebuah platform iklan.

Kita merasa sedang menggunakan produk yang sudah kita beli.

Smartphone Ternyata Tidak Berhenti Menjadi Produk Setelah Dibeli

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Smartphone modern bukan sekadar perangkat keras.

Di dalamnya terdapat sistem operasi, aplikasi bawaan, layanan cloud, toko aplikasi, browser, sistem keamanan, pembaruan perangkat lunak, serta berbagai layanan digital lainnya.

Artinya, hubungan antara produsen dan pengguna sebenarnya tidak benar-benar berakhir ketika transaksi di toko selesai.

Perangkat yang sudah terjual tetap terhubung dengan ekosistem produsen.

Dan dari sinilah muncul sebuah model bisnis yang menarik: pengguna tetap memiliki nilai ekonomi setelah pembelian perangkat selesai.

Penelitian terhadap beberapa versi Android dari Samsung, Xiaomi, Huawei, dan Realme menunjukkan bahwa perangkat lunak bawaan OEM melakukan komunikasi jaringan untuk berbagai tujuan, termasuk layanan sistem, analitik, dan advertising. Penelitian tersebut juga menemukan adanya pengumpulan informasi tertentu, seperti daftar aplikasi yang terpasang dan data telemetry (Liu et al., 2023).

Tentu, hal ini tidak berarti semua data yang dikumpulkan digunakan untuk iklan.

Data dapat diperlukan untuk berbagai fungsi teknis, seperti pembaruan sistem, keamanan, diagnosis masalah, dan peningkatan layanan.

Namun, dari sudut pandang pengguna, fakta bahwa perangkat lunak bawaan dapat mengetahui dan mengirimkan informasi tertentu mengenai penggunaan perangkat tetap menjadi sesuatu yang layak diperhatikan.

Ketika Penggunaan Kita Memiliki Nilai Ekonomi

Bayangkan kita menggunakan smartphone setiap hari.

Kita membuka aplikasi tertentu setiap pagi.

Menonton video pada malam hari.

Menginstal beberapa aplikasi.

Menghapus aplikasi lainnya.

Mengklik sebuah rekomendasi.

Berinteraksi dengan sebuah iklan.

Aktivitas seperti itu, dalam sistem digital tertentu, dapat memberikan gambaran mengenai kebiasaan pengguna.

Dan dalam ekonomi digital, informasi mengenai pola penggunaan dapat memiliki nilai.

Xiaomi, misalnya, menjelaskan bahwa sistem iklannya dapat menggunakan informasi seperti penggunaan aplikasi dan interaksi pengguna dengan iklan untuk membentuk segmen pengguna dan memberikan iklan yang dipersonalisasi.

Yang menarik, model seperti ini menunjukkan bahwa smartphone bukan hanya perangkat untuk mengonsumsi layanan digital.

Smartphone itu sendiri dapat menjadi bagian dari sistem monetisasi layanan digital.

Dengan kata lain, setelah smartphone terjual, perangkat tersebut masih dapat menjadi pintu masuk ke berbagai layanan yang menghasilkan pendapatan.

Iklan hanyalah salah satunya.

Apakah Kita Membayar Dua Kali?

Di sinilah pertanyaannya menjadi sedikit lebih filosofis.

Pertama, kita membayar smartphone dengan uang.

Kemudian, selama menggunakannya, kita memberikan sesuatu yang lain: perhatian.

Dalam beberapa kasus, kita juga menghasilkan data penggunaan yang dapat digunakan untuk analitik atau personalisasi layanan.

Namun, ini tidak otomatis berarti data pengguna "dijual".

Istilah tersebut sering kali terlalu sederhana dan bisa menyesatkan.

Yang mungkin lebih tepat adalah bahwa data dan perhatian pengguna dapat menjadi bagian dari nilai ekonomi sebuah platform digital.

Karena itu, harga yang kita lihat di kotak smartphone mungkin bukan keseluruhan cerita tentang bagaimana sebuah perangkat menghasilkan uang.

Sebuah smartphone dapat menghasilkan pendapatan melalui berbagai hal setelah perangkat tersebut terjual.

Mulai dari iklan, layanan cloud, toko aplikasi, subscription, konten digital, hingga layanan tambahan lainnya.

Tetapi Ada Alasan Mengapa Model Ini Muncul

Di sisi lain, kita juga perlu melihat persoalan ini dari sudut pandang produsen.

Industri smartphone adalah industri yang sangat kompetitif.

Harga menjadi salah satu faktor utama dalam keputusan pembelian. GSMA bahkan menyebut keterjangkauan perangkat sebagai salah satu hambatan penting terhadap adopsi mobile internet di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Artinya, produsen memang memiliki alasan untuk mencari sumber pendapatan selain hanya menjual hardware.

Iklan dapat menjadi salah satunya.

Layanan cloud bisa menjadi sumber pendapatan lainnya.

Begitu pula dengan toko aplikasi, subscription, konten digital, dan berbagai layanan tambahan yang tetap digunakan setelah perangkat terjual.

Jadi, keberadaan iklan tidak otomatis berarti produsen sedang "mengakali" konsumen.

Ada model ekonomi di belakangnya.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya:

Mengapa ada iklan?

Tetapi juga:

Seberapa jauh model bisnis tersebut boleh masuk ke pengalaman menggunakan smartphone?

Dan yang lebih penting lagi:

Apakah pengguna benar-benar diberi pilihan?

Itulah persoalan yang akan kita bahas pada artikel berikutnya: tentang personalisasi iklan, transparansi, pilihan pengguna, dan pertanyaan yang lebih besar mengenai siapa sebenarnya yang mengendalikan pengalaman digital di dalam smartphone yang sudah kita beli.


Bersambung ke artikel berikutnya:

Smartphone, Iklan, dan Data: Seberapa Banyak Pilihan yang Kita Miliki?

Referensi

  • GSMA. (2024). Improving handset affordability in low- and middle-income countries. GSMA.
  • Liu, H., Patras, P., & Leith, D. J. (2023). On the data privacy practices of Android OEMs. PLOS ONE, 18(1), e0279942.
  • Xiaomi. (n.d.). MIUI 13 Privacy White Paper: Advertisement. Xiaomi Trust Center.

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik, karena komentar yang baik bisa membuat DizaShared lebih baik lagi. ^_^'
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...