Pada pembahasan sebelumnya, kita melihat persoalan dari sisi pengguna.
Kita membeli smartphone dengan uang sendiri, tetapi setelah perangkat berada di tangan kita, produsen masih dapat menghasilkan uang dari iklan, layanan, dan berbagai aktivitas yang terjadi di dalam perangkat.
Sekilas, hal ini bisa terasa seperti kita "membayar dua kali".
Tetapi ada satu pertanyaan lain yang juga perlu kita ajukan:
Kalau iklan dihilangkan, siapa yang membayar biaya di belakang smartphone tersebut?
Pertanyaan ini penting karena smartphone bukan produk yang selesai dibuat ketika keluar dari pabrik.
Smartphone Tidak Berhenti Membutuhkan Biaya Setelah Dijual
Bayangkan sebuah smartphone yang sudah berada di tangan pengguna selama tiga tahun.
Selama periode tersebut, produsen masih harus menyediakan dan mengembangkan berbagai layanan, seperti:
- pembaruan sistem operasi,
- patch keamanan,
- server dan layanan cloud,
- sinkronisasi data,
- toko aplikasi,
- layanan akun,
- layanan pelanggan,
- pengembangan software,
- serta berbagai layanan digital lainnya.
Tidak semuanya harus dibayar secara langsung oleh pengguna.
Sebagian biaya dapat dimasukkan ke dalam harga perangkat.
Sebagian dapat berasal dari layanan berbayar.
Sebagian lainnya dapat berasal dari iklan atau bentuk monetisasi lain.
Dengan kata lain, harga yang kita bayar di kasir bukan satu-satunya cara produsen mendapatkan pendapatan dari sebuah perangkat.
Setelah smartphone terjual, hubungan antara perangkat dan ekosistem digitalnya masih terus berjalan.
Produsen tetap perlu mempertahankan layanan, mengembangkan perangkat lunak, memperbaiki masalah keamanan, dan dalam beberapa kasus menyediakan pembaruan selama bertahun-tahun.
Semua itu membutuhkan biaya.
Smartphone Murah Membutuhkan Model Bisnis yang Berbeda
Persaingan harga membuat persoalan ini semakin menarik.
Produsen smartphone tidak hanya bersaing berdasarkan kualitas.
Mereka juga bersaing berdasarkan harga.
Bagi konsumen, perbedaan beberapa ratus ribu rupiah bisa menentukan apakah sebuah perangkat masuk daftar pilihan atau tidak.
Dan keterjangkauan smartphone memang masih menjadi persoalan global. GSMA menyebut harga handset sebagai salah satu hambatan utama bagi masyarakat di negara berpendapatan rendah dan menengah untuk mengakses mobile internet.
Dalam kondisi seperti ini, produsen mempunyai beberapa pilihan.
Mereka bisa menaikkan harga perangkat.
Bisa mengurangi spesifikasi.
Bisa mencari pendapatan dari layanan tambahan.
Atau menggunakan kombinasi dari berbagai model tersebut.
Advertising adalah salah satu pilihan.
Dengan adanya sumber pendapatan tambahan setelah perangkat terjual, produsen secara teori dapat memiliki lebih banyak ruang untuk menekan harga awal perangkat atau menawarkan spesifikasi yang lebih kompetitif.
Tentu, setiap produsen memiliki strategi bisnis yang berbeda.
Tetapi secara umum, semakin ketat persaingan harga, semakin penting bagi perusahaan untuk mencari cara memperoleh pendapatan dari ekosistem yang dibangun di sekitar perangkat.
Jadi, Mungkin Iklan Memang Membantu Membuat Smartphone Lebih Murah
Ini adalah bagian yang sering hilang ketika kita membicarakan iklan di smartphone.
Kita melihat iklan dan langsung berpikir:
"Mengapa saya harus melihat ini? Saya sudah membeli HP-nya."
Itu pertanyaan yang valid.
Tetapi dari sisi ekonomi, produsen mungkin memiliki pertanyaan lain:
"Bagaimana jika pendapatan dari layanan dan iklan memungkinkan kami menjual perangkat dengan harga yang lebih kompetitif?"
Keduanya sama-sama masuk akal.
Pembeli tentu menginginkan pengalaman yang bersih dan nyaman.
Sementara produsen ingin perangkat tetap kompetitif secara harga sekaligus mampu menghasilkan keuntungan.
Di sinilah terjadi sebuah trade-off.
Harga yang lebih rendah dapat berjalan bersama dengan monetisasi yang lebih agresif.
Namun, hubungan antara harga murah dan iklan tentu tidak selalu sederhana.
Tidak semua smartphone murah menampilkan iklan, dan tidak semua smartphone mahal sepenuhnya bebas dari berbagai bentuk monetisasi layanan.
Yang penting untuk dipahami adalah bahwa harga perangkat hanyalah salah satu bagian dari model bisnis.
Tetapi Apakah Pengguna Memang Mengetahui Trade-Off Tersebut?
Di sinilah persoalan yang menurut saya jauh lebih penting.
Kalau sebuah smartphone dijual dengan harga lebih murah dan memiliki pengalaman yang didukung oleh advertising, seharusnya konsumen bisa mengetahui gambaran tersebut sebelum membeli.
Bayangkan jika informasi spesifikasi smartphone menampilkan:
6 GB RAM
128 GB Storage
AMOLED Display
Advertising-supported experience
Mungkin kita akan memiliki ekspektasi yang berbeda sebelum membeli.
Kita dapat membandingkan bukan hanya hardware, tetapi juga pengalaman penggunaan yang akan kita dapatkan setelah smartphone berada di tangan.
Masalahnya, informasi mengenai model monetisasi biasanya tidak menjadi bagian utama dari spesifikasi yang kita lihat ketika membandingkan smartphone.
Kita sibuk membandingkan chipset dan kamera.
Sementara model bisnisnya sering kali baru benar-benar terasa setelah perangkat digunakan.
"Bebas Iklan" Seharusnya Bisa Menjadi Pilihan
Ada sebuah konsep yang menurut saya cukup menarik:
Ad-free sebagai fitur premium.
Misalnya, konsumen diberikan pilihan sederhana:
Harga A — dengan iklan
Harga B — tanpa iklan
Model seperti ini lebih mudah dipahami oleh konsumen.
Orang yang ingin menghemat uang dapat memilih pengalaman yang didukung oleh iklan.
Sementara orang yang tidak ingin terganggu dapat memilih untuk membayar lebih.
Dengan begitu, iklan menjadi bagian dari pilihan ekonomi, bukan sesuatu yang baru disadari pengguna setelah membeli perangkat.
Tentu, model seperti ini tidak selalu praktis untuk semua produsen.
Tetapi secara prinsip, transparansi seperti ini dapat membuat hubungan antara pembeli dan produsen menjadi lebih jelas.
Pembahasan ini berlanjut pada bagian berikutnya.
Jika iklan menjadi salah satu cara untuk membiayai ekosistem smartphone, persoalannya ternyata tidak berhenti di sana.
Ada satu hal lain yang perlu diperhatikan: data dan pola penggunaan pengguna.
Pada bagian kedua, kita akan membahas hubungan antara harga smartphone, iklan, data, privasi, dan pertanyaan yang lebih besar: apakah harga murah benar-benar selalu berarti biaya yang lebih rendah bagi pengguna?
Referensi
- GSMA. (2024). Improving handset affordability in low- and middle-income countries. GSMA.
- Liu, H., Patras, P., & Leith, D. J. (2023). On the data privacy practices of Android OEMs. PLOS ONE, 18(1), e0279942.
- Xiaomi. (n.d.). MIUI 13 Privacy White Paper: Advertisement. Xiaomi Trust Center.