Dapatkan Promo Online terbaik. Dapatkan Sekarang!

Smartphone, Iklan, dan Data: Seberapa Banyak Pilihan yang Kita Miliki?

Iklan di aplikasi bawaan smartphone sering memicu persoalan transparansi data dan privasi. Apakah Anda benar-benar diberi pilihan atas perangkat Anda?

Pada artikel sebelumnya, kita membahas sebuah fenomena yang mungkin terasa aneh pada awalnya:

Kita sudah membeli smartphone, tetapi perangkat tersebut masih dapat menampilkan iklan kepada kita.

Pertanyaannya sebenarnya bukan sekadar soal ada atau tidak adanya iklan.

Persoalan yang lebih penting adalah:

Apakah pengguna benar-benar diberi pilihan?

Karena bagi sebagian orang, keberadaan iklan mungkin bukan masalah besar.

Tetapi bagi sebagian lainnya, iklan di aplikasi bawaan smartphone bisa terasa mengganggu, terutama ketika perangkat tersebut sudah dibeli dengan uang sendiri.

Yang Kita Inginkan Sebenarnya Adalah Pilihan

Menurut Dizais, persoalan utamanya bukan hanya:

"Ada iklan atau tidak?"

Melainkan:

"Apakah Saya diberi pilihan?"

Bayangkan ada dua smartphone dengan spesifikasi yang kurang lebih sama.

Smartphone A dijual dengan harga lebih murah dan menampilkan iklan pada beberapa layanan bawaannya.

Smartphone B dijual sedikit lebih mahal, tetapi menawarkan pengalaman tanpa iklan.

Sebagian orang mungkin akan memilih A.

Sebagian lainnya mungkin rela membayar lebih untuk B.

Dan sebenarnya, itu adalah keputusan yang cukup sederhana selama semuanya dijelaskan secara transparan.

Masalah muncul ketika konsumen baru menyadari keberadaan iklan setelah perangkat berada di tangan mereka.

Terlebih lagi jika iklan tersebut muncul di tempat yang secara intuitif dianggap sebagai bagian dari antarmuka dasar perangkat.

File Manager, aplikasi keamanan, browser, atau aplikasi bawaan lainnya terasa berbeda dengan aplikasi gratis yang sengaja kita unduh.

Karena dalam situasi tersebut, pengguna mungkin merasa:

Saya membeli smartphone, tetapi ternyata pengalaman menggunakannya masih memiliki model bisnis lain yang baru Saya sadari setelah membeli.

Ketika Penggunaan Kita Menjadi Informasi

Smartphone adalah perangkat yang kita gunakan hampir setiap hari.

Kita membuka aplikasi.

Menginstal dan menghapus software.

Menonton video.

Menggunakan browser.

Berinteraksi dengan berbagai layanan.

Semua aktivitas tersebut dapat menghasilkan informasi mengenai pola penggunaan perangkat.

Dalam ekonomi digital, informasi seperti ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

Mulai dari analitik, peningkatan layanan, keamanan, diagnosis masalah, hingga personalisasi.

Dalam konteks iklan, personalisasi dapat digunakan untuk mencoba menampilkan promosi yang dianggap lebih relevan bagi pengguna.

Xiaomi, misalnya, menjelaskan bahwa sistem iklannya dapat menggunakan informasi seperti penggunaan aplikasi dan interaksi pengguna dengan iklan untuk membentuk segmen pengguna dan menampilkan iklan yang dipersonalisasi.

Namun, penting untuk membedakan antara beberapa hal.

Pengumpulan data tidak selalu berarti data tersebut digunakan untuk iklan.

Dan penggunaan data untuk personalisasi tidak selalu berarti data pengguna "dijual".

Ekosistem digital jauh lebih kompleks daripada sekadar kalimat:

"Perusahaan menjual data kita."

Yang lebih tepat adalah bahwa data dan perhatian pengguna dapat memiliki nilai ekonomi dalam sebuah ekosistem digital.

Personalisasi Bukan Berarti Iklannya Hilang

Ada satu hal yang sering membingungkan pengguna.

Mematikan iklan yang dipersonalisasi tidak selalu berarti menghilangkan iklan sepenuhnya.

Xiaomi, misalnya, menjelaskan bahwa pengguna dapat menonaktifkan personalisasi iklan. Namun, hal tersebut tidak selalu berarti perangkat berhenti menampilkan iklan karena iklan non-personalisasi masih dapat ditampilkan.

Ini mungkin terlihat seperti perbedaan kecil, tetapi sebenarnya cukup penting.

Karena ada dua pilihan yang berbeda:

"Pengguna tidak ingin melihat iklan yang dipersonalisasi berdasarkan data penggunaannya."

dan:

"Pengguna tidak ingin melihat iklan sama sekali."

Keduanya bukan hal yang sama.

Dan menurut Penulis, pengguna seharusnya dapat memahami perbedaan tersebut dengan mudah.

Pilihan mengenai iklan seharusnya tidak tersembunyi di balik banyak menu, istilah teknis, atau pengaturan yang sulit ditemukan.

Transparansi Seharusnya Menjadi Bagian dari Pengalaman Pengguna

Masalah terbesar sebenarnya mungkin bukan keberadaan iklan itu sendiri.

Masalahnya adalah ketika pengguna tidak memahami:

  • Mengapa iklan tersebut muncul.
  • Data seperti apa yang digunakan untuk personalisasi.
  • Apakah iklan dapat dinonaktifkan.
  • Apa perbedaan antara menonaktifkan personalisasi dan menghilangkan iklan.
  • Layanan mana yang merupakan bagian dari sistem dan mana yang memiliki model monetisasi tersendiri.

Transparansi menjadi penting karena smartphone bukan lagi perangkat sederhana.

Di dalamnya terdapat banyak lapisan layanan.

Sistem operasi.

Cloud.

Aplikasi bawaan.

Toko aplikasi.

Layanan keamanan.

Browser.

Sistem rekomendasi.

Dan mungkin juga sistem iklan.

Semakin kompleks sebuah ekosistem, semakin penting pengguna memahami hubungan antara perangkat yang dibeli dan layanan yang terus berjalan setelah pembelian.

Jadi, Siapa Sebenarnya yang Memiliki Smartphone?

Secara sederhana, jawabannya tentu kita.

Kita membeli perangkat tersebut.

Kita membawanya pulang.

Kita menggunakannya setiap hari.

Namun, dalam pengalaman digital, hubungan tersebut menjadi sedikit lebih rumit.

Produsen masih mengembangkan sistem operasi.

Masih menyediakan aplikasi bawaan.

Masih mengirimkan pembaruan.

Masih menjalankan layanan cloud.

Masih menyediakan toko aplikasi dan berbagai layanan digital lainnya.

Dan dalam beberapa model bisnis, perusahaan masih dapat memperoleh pendapatan dari aktivitas pengguna setelah smartphone terjual.

Maka muncul pertanyaan yang lebih besar:

Apakah setelah smartphone terjual, pengguna masih merupakan pelanggan—atau sudah menjadi bagian dari produk yang dimonetisasi?

Mungkin jawabannya adalah:

Keduanya.

Kita adalah pelanggan ketika membeli smartphone.

Tetapi selama perangkat tersebut digunakan sebagai bagian dari sebuah ekosistem digital, kita juga tetap memiliki nilai ekonomi bagi perusahaan.

Dan mungkin hal itu sendiri bukan masalah.

Produsen tentu membutuhkan model bisnis untuk mempertahankan layanan dan bersaing dalam industri yang sangat kompetitif.

Yang lebih penting adalah:

Apakah hubungan tersebut transparan?

Apakah pengguna memiliki pilihan?

Apakah pengguna memahami apa yang terjadi di dalam perangkat yang digunakannya setiap hari?

Smartphone yang Kita Pilih Juga Membawa Model Bisnis

Ketika membeli smartphone, kita biasanya membandingkan banyak hal.

RAM.

Kamera.

Prosesor.

Baterai.

Layar.

Kecepatan pengisian daya.

Tetapi mungkin ada satu hal lain yang mulai perlu kita pertimbangkan:

Model bisnis di balik perangkat tersebut.

Apakah perangkat tersebut menawarkan pengalaman bebas iklan?

Apakah aplikasi bawaannya menggunakan sistem rekomendasi atau advertising?

Apakah personalisasi dapat dinonaktifkan?

Apakah pengguna memiliki kontrol yang mudah terhadap layanan dan pengaturan privasi?

Karena pada akhirnya, memilih smartphone mungkin tidak hanya berarti memilih hardware.

Kita juga sedang memilih sebuah ekosistem.

Dan di dalam ekosistem tersebut terdapat berbagai keputusan mengenai bagaimana perangkat, layanan, data, perhatian, dan pendapatan saling berhubungan.

Mungkin itulah pertanyaan paling pentingnya.

Bukan sekadar:

"Apakah smartphone ini bagus?"

Tetapi juga:

"Model pengalaman digital seperti apa yang Dizais setujui ketika menggunakan smartphone ini?"

Karena ketika kita membeli smartphone, mungkin kita sebenarnya tidak hanya membeli:

RAM, kamera, prosesor, dan baterai.

Kita juga sedang memilih:

model bisnis seperti apa yang bersedia kita terima dalam perangkat yang kita gunakan setiap hari.

Referensi

  • GSMA. (2024). Improving handset affordability in low- and middle-income countries. GSMA.
  • Liu, H., Patras, P., & Leith, D. J. (2023). On the data privacy practices of Android OEMs. PLOS ONE, 18(1), e0279942.
  • Xiaomi. (n.d.). MIUI 13 Privacy White Paper: Advertisement. Xiaomi Trust Center.

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik, karena komentar yang baik bisa membuat DizaShared lebih baik lagi. ^_^'
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...