Dapatkan Promo Online terbaik. Dapatkan Sekarang!

Terjebak Ketinggalan Tren? Ini Dampak FOMO dan Tips Jaga Waras di Medsos

Kenali apa itu FOMO (Fear of Missing Out), penyebab kecemasan sosial akibat media sosial, serta tips mudah untuk menjaga kesehatan mental Anda.

Pernahkah kamu merasa cemas, gelisah, atau tidak tenang hanya karena beberapa jam tidak membuka media sosial? Jempol terasa gatal ingin terus menggulir lini masa, takut kalau-kalau ada lelucon baru, berita hangat, atau kegiatan teman-teman yang terlewatkan. Kalau kamu sering merasakan hal ini, selamat datang di klub Fear of Missing Out atau yang akrab disingkat FOMO.

Secara istilah psikologi, Przybylski et al. (2013) mendefinisikan FOMO sebagai bentuk kecemasan sosial ketika seseorang merasa orang lain sedang mendapatkan pengalaman seru, informasi penting, atau kesenangan di mana ia tidak ikut hadir di dalamnya. Fenomena ini bukan sekadar tren dunia maya yang lewat begitu saja. Riset psikologi modern menunjukkan bahwa FOMO memicu perilaku kompulsif—seperti dorongan bawah sadar untuk terus-menerus mengecek gawai demi menjaga koneksi sosial.

Mengapa Media Sosial Begitu Candu?

Algoritma platform digital dirancang secara khusus untuk memicu rasa ingin tahu kita. Tampilan hidup orang lain yang terkurasi sedemikian rupa sering kali memperkuat ilusi bahwa kita tertinggal jauh. Akibatnya, kecemasan ini menjelma menjadi dorongan kuat untuk selalu mencari informasi (information-seeking behavior). Berdasarkan studi psikologi pendidikan dan media, tingkat FOMO yang tinggi berkorelasi kuat dengan intensitas penggunaan media sosial yang tidak sehat, yang jika dibiarkan dapat bermuara pada kejenuhan digital atau digital burnout (Prabowo et al., 2026; Mahardhika et al., 2024).

Jalan Keluar: Saatnya Jata-Time (Jaga Waras di Dunia Maya)

Menyadari jeratan FOMO adalah langkah awal yang baik untuk merebut kembali kendali atas waktu dan pikiran kita. Beberapa cara sederhana untuk meredam FOMO di antaranya:

  • Batasi Waktu Layar (Screen Time): Mengatur batasan harian untuk aplikasi yang paling sering memicu kecemasan.
  • Kurasi Konten: Unfollow atau bisukan akun-akun yang sering kali membuatmu membandingkan diri secara tidak sehat.
  • Nikmati Momen Nyata (J.A.D.I): Alihkan fokus pada kegiatan di dunia nyata yang sedang dilakukan tanpa sibuk mendokumentasikannya untuk orang lain.

Ingatkan diri kita bahwa hidup bukan ajang perlombaan untuk tahu segalanya lebih cepat. Terkadang, tertinggal sedikit dari tren justru membuat pikiran kita jauh lebih tenang.


Refeerensi

  • Mahardhika, I., Adi, S., Indah, I., & Baids, F. (2024). Dampak FOMO pada Kecemasan Mahasiswa Pengguna Media Sosial. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(22), 18–24. https://doi.org/10.5281/zenodo.14286534
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
  • Rahardjo, W., & Soetjiningsih, C. H. (2022). Self-regulation and fear of missing out (FoMO) as predictors of social media addiction in adolescents. Jurnal Psikologi, 21(2), 115-128.

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik, karena komentar yang baik bisa membuat DizaShared lebih baik lagi. ^_^'
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...